RSS

KONSEP LAHIRNYA PROFESI CHIEF INFORMATION OFFICER (CIO) DI INDONESIA

27 Agu

Profesi CIOMasyarakat abad 21 dikenal sebagai masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based society) dimana intangible resources, sumber daya manusia dan modal sosial (social capital) menjadi aset yang sangat penting, dengan  ilmu pengetahuan (knowledge) dan kreativitas sebagai faktor kunci. Berkaca pada negara-negara anggota The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dengan tingkat literasi yang tinggi, terbukti bahwa negara-negara yang berhasil menguasai ekonomi dunia adalah negara yang menerapkan konsep ekonomi berbasis ilmu pengetahuan (knowledge based economy). Oleh sebab itu, masyarakat Indonesia perlu berupaya untuk menjadi masyarakat yang berbasis ilmu pengetahuan dan mengembangkan ekonomi berbasis ilmu pengetahuan.

Adapun konsep yang melatar belakangi lahirnya akan profesi Chief Information Officer di Indonesia adalah diawali dengan Bergulirnya kebijakan otonomi daerah dengan UU No. 22 Tahun 1999, tentang Otonomi Daerah yang mengisyaratkan kemungkinan pengembangan suatu wilayah dalam suasana yang lebih kondusif dan dalam wawasan yang lebih demokratis. UU ini diperkuat oleh INPRES No. 3 Tahun 2003, tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Pemerintahan Elektronik (e-government), yang mengisyaratkan bahwa pengembangan e-government akan meningkatkan efisiensi, efektivitas, transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan pemerintahan.

Perwujudan e-government ini direalisasikan melalui SK MENPAN No. 13 Tahun 2003, perihal Perkantoran Elektronik (e-office) di lingkungan instansi pemerintah, termasuk pemerintah provinsi, kota, dan kabupaten. Pemanfaatan Teknologi Informasi ini ditata dengan UU No. 11 Tahun 2008, tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) yang mengatur mengenai pemanfaatan Teknologi Informasi dan Transaksi Elektronik sebagai pendukung dalam penyelenggaraan layanan e-government.

Kebijakan pendukung lainnya adalah dengan kehadiran UU No. 14 Tahun 2008, tentang Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP) Pasal 13 menyatakan, bahwa untuk mewujudkan pelayanan cepat, tepat, dan sederhana setiap Badan Publik :

a)  Menunjuk Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi dan

b) Membuat dan mengembangkan sistem penyediaan layanan informasi secara cepat, mudah, dan wajar sesuai dengan petunjuk teknis standar layanan Informasi Publik yang berlaku secara nasional.

 Implementasi e-government ini membutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang Teknologi Informasi (TI) sebagai upaya mewujudkan good governance. untuk itu diperlukan peran Government Chief Information Officer (CIO) selaku eksekutif yang akan bertanggung jawab dalam perencanaan, penyelarasan, penyiapan, implementasi, dan evaluasi didalam penyelenggaraan teknologi informasi dan komunikasi pada instansi pemerintah.

Jabatan Chief Information Officer (CIO) dalam suatu organisasi baik perusahaan, pemerintahan ataupun lembaga nirlaba, mempunyai peran sebagai pemimpin dalam penyediaan informasi bagi kelangsungan hidup organisasi untuk mencapai tujuannya. Peranan Profesi CIO semakin penting di era informasi yang menempatkan kemampuan dalam memberdayakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sebagai pilar eksistensi organisasi.

Kemampuan memberdayakan TIK di organisasi menjadi faktor kunci dalam mencapai keunggulan organisasi. Meskipun demikian, penerapan TIK  di lingkungan organisasi masih belum sesuai harapan, bahkan mengalami kegagalan. Kegagalan penerapan TIK pada umumnya disebabkan oleh persepsi terhadap TIK belum sesuai dengan peran dan potensinya. Peran TIK masih dianggap sebagai support, belum sebagai enabler, sehingga model penerapan, inovasi dan investasi TIK belum dapat dicapai secara optimal. Agar TIK dapat diberdayakan untuk meningkatkan daya saing atau kualitas pelayanan publik, diperlukan cara pandang TIK sebagai enabler dalam proses transformasi pemerintahan atau perusahaan. Proses transformasi ini memerlukan seorang innovator yang bisa mengintegrasikan antara visi organisasi dengan kemampuan sumberdaya informasi dan sumber daya lainnya. Disinilah dibutuhkan peran profesi seorang CIO (Chief Information Officer) untuk memimpin suatu transformasi tersebut diatas berbasiskan pengelolaan informasi secara efektif.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 27, 2013 in Profesi CIO

 

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: